AI Kini Jadi “Teman Kerja” Baru Gen Z dan Milenial
Kehadiran artificial intelligence (AI) kini semakin akrab di dunia kerja, bahkan mulai dianggap sebagai “rekan kerja baru” oleh generasi milenial dan Gen Z
Perkembangan teknologi AI semakin mengubah cara generasi muda bekerja. Survei terbaru Deloitte menunjukkan penggunaan AI di kalangan Gen Z dan milenial melonjak tajam dalam setahun terakhir.
Dalam survei global tersebut, sekitar 74 persen Gen Z dan milenial mengaku sudah menggunakan AI dalam aktivitas kerja sehari-hari. Angka ini meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 56–57 persen.
Bagi banyak pekerja muda, AI kini bukan sekadar alat tambahan, melainkan sudah menjadi “partner kerja digital” yang membantu menyusun ide, membuat laporan, menganalisis data, hingga mencari solusi pekerjaan lebih cepat.
Bahkan, sebagian responden mengaku menggunakan AI untuk mencari saran karier, meningkatkan kemampuan kerja, hingga membantu mengurangi stres saat menghadapi tekanan pekerjaan.
Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam budaya kerja generasi muda. Jika dulu mesin pencari seperti Google menjadi andalan utama, kini banyak pekerja mulai beralih menggunakan chatbot AI karena dianggap lebih praktis, interaktif, dan mampu memberikan jawaban yang lebih spesifik.
Survei Deloitte juga menemukan AI membantu pekerja level awal mempercepat proses belajar dan pengembangan karier. Banyak responden merasa teknologi tersebut membuat pekerjaan lebih efisien sehingga mereka bisa fokus pada tugas yang lebih strategis.
Meski begitu, penggunaan AI secara masif juga mulai memunculkan tantangan baru. Salah satunya adalah digital fatigue atau kelelahan digital akibat terlalu banyak platform, notifikasi, dan alat kerja berbasis teknologi.
Lebih dari separuh responden Gen Z dan milenial mengaku mengalami kelelahan digital karena harus terus berpindah aplikasi dan menghadapi arus informasi yang tidak berhenti.
Selain itu, masih banyak pekerja muda yang menilai perusahaan tempat mereka bekerja belum sepenuhnya siap menghadapi transformasi AI. Sekitar sepertiga responden menilai organisasi mereka belum memiliki kesiapan yang cukup untuk menghadapi perubahan besar akibat AI di dunia kerja.
Di Indonesia sendiri, penggunaan AI di lingkungan kerja juga terus meningkat, mulai dari sektor kreatif, pemasaran digital, layanan pelanggan, pendidikan, hingga industri keuangan.
Berbagai platform AI seperti chatbot generatif, software otomatisasi, hingga AI assistant kini mulai menjadi bagian dari rutinitas kerja harian pekerja muda perkotaan.
Pengamat teknologi menilai tren ini akan terus berkembang karena generasi muda cenderung lebih cepat beradaptasi dengan teknologi baru dibanding generasi sebelumnya.
Namun di sisi lain, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan pengambilan keputusan manusia tetap dinilai tidak bisa sepenuhnya digantikan AI.
Karena itu, AI diprediksi bukan akan menggantikan seluruh pekerjaan manusia, melainkan menjadi alat pendamping yang membantu pekerja bekerja lebih cepat, efisien, dan produktif di era digital.





